drg Ika Ratna Sp.BM HOTLINE 08119141419 WhatsApp

Jakarta, CNN Indonesia -- Kesehatan gigi mungkin menjadi perhatian saat ini. Pengobatan terhadap gigi pun terus berkembang.

Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar tahun 2013, prevalensi nasional masalah gigi dan mulut mencapai 25,9 persen. Sebanyak 72,3 persen penduduk Indonesia mengalami karies gigi sehingga menyebabkan penyakit gigi dan mulut menduduki urutan pertama dengan prevalensi 61 persen.

Melirik pada persoalan tersebut, Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI), Indonesia Prosthodontic Society (IPROSI) dan Ikatan Konservasi Gigi Indonesia (IKORGI) bekerja sama dengan 3M Indonesia membuat teknologi terbaru yang disebut True Nanofiller.

Dokter gigi Rina Permatasari mengklaim, teknologi tersebut digunakan untuk menyempurnakan kualitas yang selama ini digunakan oleh dokter gigi. Biasanya, hal itu dilakukan untuk menambal gigi yang berlubang.

"Pengalaman seusai tambal itu gigi akan ngilu, tambalan lepas, berubah warna. Dari keluhan pasien itulah kami tampung supaya tidak menyebabkan sakit," ujarnya di Sudirman, Jakarta Pusat, Selasa (16/5).

Proses penambalan dengan teknologi itu adalah dengan memberikan tambalan yang berupa pasta ke dalam gigi berlubang. Setelahnya, dia akan mengeras usai disinar.

Setelah penambalan, kata Rina, seseorang akan melakukan aktifitas biasa seperti mengunyah makanan. Hal tersebut akan membuat tambalan biasa menjadi kasar.

Maka itu, Rina mengatakan, para dokter mengupayakan supaya seseorang yang telah melakukan pengobatan gigi tetap bisa melakukan estetika mulut. Fungsi estetika itu meliputi, fungsi bicara, pengunyahan dan kenyamanan.

"Yang perlu dilakukan adalah mewujudkan estetika mulut pasien dan dokter harus mengetahui hal tersebut," tuturnya.

 

Sumber : cnnIndonesia.com

 

E-mail me when people leave their comments –

You need to be a member of DentisBi to add comments!

Join DentisBi